« Mau tau gimana respon Israel terhadap reaksi negatif atas serangan barbar yang dilakukanya? | Main | 8 Kado Terindah »

August 07, 2006

Qana, Mukzizat yang terluka T_T

Qana, sebuah desa di Lebanon, selama       perjalanan
sejarah, khususnya dalam pengembangan ajaran
Kristen,       selalu menjadi perhatian dunia. Kini porak-
poranda oleh "tangan       Israel"



Hidayatullah.com--Qana, adalah sebuah desa       di
Lebanon, di sana, ajaran Isa Al Masih berawal. Di
tempat itu pula       tragedi kemanusiaan penuh ratap
tangis terjadi akibat serangan militer       Israel pekan
lalu.

Pada beberapa dasawarsa awal tahun       Masehi,
Qana adalah sebuah desa kecil yang masuk
dalam kawasan       Galilea. Kondisi geografis Galilea
yang beragam membuat mata       pencarian
penduduknya pun bervariasi.

Orang yang tinggal di       sekitar Danau Galilea
beradaptasi dengan beraktivitas sebagai       nelayan.
Mereka adalah penduduk yang tinggal di Magadan,
Tiberias,       Kapernaum, dan beberapa daerah lainnya.

Sedangkan penduduk di       wilayah yang jauh dari
danau Galilea mengandalkan pertanian       dengan
anggur sebagai salah satu hasil buminya. Qana
adalah salah       satu dari daerah-daerah tersebut.

Kehidupan di Qana tidak jauh       berbeda dengan
kehidupan desa dengan segala tradisi dan
intimitas       antar penduduknya. Yohanes, seorang
penulis dan juga sahabat Isa,       menggambarkan hal
itu dalam kesaksiannya.

Sekitar tahun 30       Masehi, masa awal penyebaran
ajaran Kristus, berlangsung acara       pernikahan di
rumah salah satu keluarga di Qana. Isa yang       juga
disebut Yesus oleh pemeluknya, diundang dalam
upacara itu       bersama ibu dan sahabat-sahabatnya,
termasuk Yohanes.

Hal yang       tidak terduga terjadi. Anggur, minuman
tradisi penyambut tamu, habis.       Atas permintaan
Maria, ibunya, Isa memperlihatkan       mukjizat
pertama.

"Di situ ada enam tempayan yang       disediakan
untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi,
masing-masing       isinya tiga buyung. Yesus berkata
kepada pelayan-pelayan itu: `Isilah       tempayan-
tempayan itu penuh dengan air`," tulis Yohanes
dalam       Injil.

Hati pemimpin pesta pernikahan bergetar setelah
mereka       mencicipi air dalam tempayan telah
berubah menjadi anggur. Seketika       sirna
kegelisahannya karena pesta berjalan lancar.
Suka cita       memenuhi Qana.

Kini, lebih dari dua ribu tahun setelah peristiwa       itu,
suasana yang sungguh berbeda terjadi di Qana.
Perubahan itu       terjadi hanya dalam hitungan menit
setelah serangan udara Israel       meluluhlantahkan
Qana, Minggu (30/7).

Sesaat setelah insiden       terjadi, kantor berita
Prancis, AFP melaporkan sedikitnya 50       orang
tewas. Sebagian besar adalah anak-anak dan 15
dari korban       anak-anak tersebut adalah
penyandang cacat.

Jumlah korban luka       dan tewas terus bertambah
mencapai ratusan orang hingga hari       ke-dua
kejadian.

Agresi Israel yang diberi kode "Operasi       Anggur
Kemarahan" itu juga telah memaksa sejumlah
warga Lebanon       menjadi pengungsi ke daerah
sekitar. Sementara itu, ratusan orang tua       meratapi
kematian anak mereka dan ratusan anak
mendadak menjadi       yatim piatu.

Dunia terperangah menyaksikan tragedi di
kawasan       yang berbatasan langsung dengan Israel
itu untuk ke dua kalinya,       setelah sebelumnya
peristiwa serupa terjadi tahun 1996.       Pemimpin
muslim dan PBB mengutuk ulah Israel tersebut.

Sekjen       Liga Arab Amr Mussa mendesak dilakukan
penyelidikan atas pembunuhan       besar-besaran di
desa Qana dan memproses kejahatan perang
lainnya       yang dilakukan Israel di Lebanon.

Jordania juga mengutuk keras       serangan itu dengan
menyebut aksi Isreal sebagai pelanggaran       hukum
internasional. Kutukan itu disampaikan langsung
oleh Raja       Jordania Abdullah dalam salah satu
peryataannya.

Desakan untuk       penyelidikan disambut baik oleh
PBB melalui Sekjen PBB Kofi Annan dan       wakilnya
dalam pernyataan mereka seperti dikutip AFP.

"Saya       mengutuk keras pembunuhan puluhan
warga sipil hari ini akibat tembakan       Israel pada
bangunan rumah warga di desa Qana. Peristiwa
tragis ini       menunjukkan pentingnya semua pihak
mengindahkan kerapnya permintaan PBB       agar
permusuhan segera dihentikan," kata Wakil
Sekjen PBB Geir       Pederson.

Selain itu, masyarakat Lebanon boleh sedikit
bernafas       lega setelah Dewan Keamanan PBB
memperpanjang keberadaan 2.000       prajurit
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL)
selama satu       bulan.

Namun demikian kepastian masih sulit untuk
didapat,       terutama karena Israel masih memberikan
pembenaran atas       aksinya.

Walau menyampaikan duka mendalam, Israel
tetap       menyalahkan gerilyawan Hizbullah karena
memnyembunyikan persenjataan di       perkampungan
dan menjadikan warga sipil sebagai tameng       hidup.

Serangan Israel ke Lebanon, termasuk Qana,
adalah       serangkaian agresi untuk menumpas
gerilyawan Hizbullah yang telah       membunuh dan
menangkap beberapa tentara Israel.

Warga sipil tak       luput dari serangan itu karena
Israel bersikeras pemukiman warga       merupakan
tempat persembunyian gerilyawan.

Qana adalah wilayah       dengan wujud yang bertolak
belakang dalam dua periode sejarah yang       berbeda.
lebih dari dua ribu tahun lalu, anggur dijadikan Isa
untuk       menumbuhkan suka cita. Kini, kata anggur
muncul dalam operasi militer       yang mematikan,
Operasi Anggur Kemarahan.

Dulu Qana menjadi       titik awal dari serangkaian
mukjizat cinta kasih Isa. Kini, daerah itu       menjadi
tempat berlangsungnya tragedi berdarah yang
justru dilakukan       oleh anak cucu Yahudi, etnis
yang diajarkan cinta kasih oleh Isa.       [sumber
antara.co.id]

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .